Bismillah...

Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang Mukmin baik diri maupun harta mereka dengan memberikan Syurga untuk mereka... (Qs. At-taubah 111)

Jumat, 29 Maret 2013

Selamat Jalan Istriku, Engkau layak atas karunia Syahid ini...

Islamedia - 17 tahun yang lalu, saat masih aktif menjadi penulis buletin dakwah, aku membaca nama pelanggan yang memesan buletin tersebut. Hj. Robiatul Adawiyah, pasti wanita yang sudah tua. Sudah naik haji dan namanya jadul sekali. “Akhi, seperti apa sih ibu Robiatul ini” tanyaku kepada Pak Marjani yang bertugas mengantar buletin. ” Ndak tahu, nggak pernah ketemu, yang saya tahu dia pesan buletin itu untuk di kirim  via bis ke Kotabangun”. Wah wanita yang mulia, mau menyisihkan uang untuk berdakwah kepada masyarakat di hulu sungai Mahakam. Tak lama kemudian setelah  kita menikah, Buletin Ad Dakwah dari Yayasan  Al Ishlah Samarinda diantar ke rumah. Ternyata wanita mulia tersebut adalah engkau istriku, bukan wanita tua seperti yang kukira. Melainkan mahasiswi yang aktif mengajar di Taman Al Quran. 
Istriku, beruntung  aku dapat memilikimu. Sudah beberapa pemuda kaya yang mencoba mendekatimu tetapi selalu kau tolak. Kelembutanmu dan kedudukanmu  sebagai putri seorang ulama besar menjadi magnet bagi para pria yang ingin memiliki istri sholehah. Kamu beralasan belum ingin menikah karena mau konsentrasi kuliah. Padahal alasan utamanya adalah kamu masih ragu dengan kesholehan mereka. Ketika Ustadzah Purwinahyu merekomendasikan diriku, tanpa banyak tanya kau langsung menerimaku. Hanya karena aku aktif ikut pengajian kau mau menerimaku, tanpa peduli berapa penghasilanku. 
Istriku, semua orang mengakui bahwa kau wanita yang tangguh. Jarang seorang wanita bercita-cita memiliki delapan anak sepertimu.  Melihatmu seperti melihat wanita Palestina yang berada di Indonesia. Jika bertemu dengan Ustadz Hadi Mulyadi, suami mba Erni ustadzahmu, pasti pertanyaan pertama kepadaku adalah, “ Berapa sekarang anakmu?”. Sering orang bertanya kepadaku, “ Gimana caranya ngurus anak sebanyak itu?” Mudah, rahasianya adalah menikahi wanita yang tangguh sepertimu.
Kehangatanmu membuat  anak-anak kita merasa nyaman di dekatmu. Di saat kau lelah sepulang dari mengisi halaqoh atau ta’lim mereka segera menyambutmu dan melepaskan kekangenan mereka. Kadang lucu melihat mereka membuntuti kemana kamu pergi. Kamu ke dapur mereka bergerombol di sekitarmu, pindah ke ruang tamu, pindah pula mereka ke ruang tamu. Masuk ke kamar, berbondong-bondong mereka ke kamar. Sampai ada anak yang selalu memegang-megang bajumu dan kamu berkomentar,” Nih anak kayak prangko aja, nempeeel terus.” Jangan salahkan mereka, akupun memiliki perasaan yang sama dengan mereka.
Kadang  jika cintaku meluap aku berkata padamu, ”Bener nih kamu ndak nyantet aku? Aku kok bisa tergila-gila begini sama kamu?” Kamu tersenyum dan berkata,” Cinta Umi ke Abi lebih besar dari cinta Abi  ke Umi, Abi aja yang ndak tahu.” Rasulullah bersabda,” Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat” (HR. Ahmad). Sungguh aku merasa telah mendapatkan segalanya dengan kau di sisiku.
Kepribadianmu yang mudah bergaul menjadikanmu disenangi oleh banyak orang. Kamal  berkata, “Umi terkenal banget di sekolah. Aku, Mba Aisyah, Mas Nashih, Hamidah, Hilma ini terkenal di sekolah karena anak Umi. Guru-guru kenal kami karena kami anak umi.” Aku ingat perjuanganmu menggalang beberapa orang tua murid ke kantor diknas untuk meminta tambahan kelas agar anak kita yang terlalu muda bisa diterima sekolah. Akhirnya SDN 006 Balikpapan mendapat tambahan kelas dan anak kita bisa bersekolah di sana. Seharusnya aku yang melakukan hal itu, bukan kamu.
Aku terpesona dengan caramu menjalin silaturahim dengan keluarga besarmu. Ketika kita pindah ke Balikpapan, sering kakak-kakakmu menelpon menanyakan kapan  liburan ke Samarinda. Mereka rindu kepadamu. Kakakmu KH. Fachrudin, seringkali menelpon,” Kita mau ngadain acara ini, kamu ke Samarinda kah?” Sya’rani, kakakmu yang  sering bepergian ke Jawa, ketika mendarat di Balikpapan pun sering berkata,” Baru dari Jawa, mau ikut saya sekalian naik mobil ke Samarinda?” Keponakan-keponakanmu pun sering bertanya, “ Acil Robiah kapan ke Samarinda.” Jika kita liburan ke Samarinda, maka kemeriahan meledak begitu mendengar suaramu mengucapkan salam. “ Wah, Haji Robiah dari Balikpapan.”
Aku kagum dengan semangatmu melaksanakan amanah dakwahmu. Sering kerinduanmu kepada keluargamu tertahan karena ada amanah dakwah yang harus kamu kerjakan. ”Sebenarnya akhir pekan ini keluarga besar kumpul. Ada acara keluarga. Tapi ada halaqoh ini dan majelis talim ini jadi ndak bisa ke Samarinda.” Semoga Allah SWT memasukkanmu ke dalam barisan orang-orang yang berjuang menegakkan agama ini.
Kesibukanmu berdakwah memang menyita waktumu. Tapi aku ridho karena kau tetap komitmen untuk mengurus rumah tangga dengan baik. Aku ridho ketika PKS berdiri, kamu bergabung dan berdakwah bersama mereka. Ku lihat kau begitu menikmati hidupmu yang mungkin bagi pandangan sebagian orang sangat melelahkan.
Kamu juga aktif mengisi kajian siroh shahabiyah di Radio IDC FM. Ketika engkau ingin berhenti karena hamil dan mengajukan ustadzah lain, mba Irna yang mengasuh acara menolak dan mengatakan sebaiknya cuti saja dan sementara akan diputar ulang rekaman yang terdahulu. Saya tahu mereka pun telah jatuh cinta kepadamu.
Saat Ustadz Cahyadi mengadakan pelatihan keluarga, beliau meminta para peserta menulis tentang pasangannya. Aku terkejut ternyata engkau mengenaliku dengan baik. Engkau tahu makanan yang kusukai dan kubenci, teman-teman yang kuanggap shahabatku, karakter-karakterku, dan teman-teman Halaqohku. Diam-diam engkau memperhatikanku. Terimakasih  telah memahami diriku.
Pernah kau mengatakan bahwa kau ingin naik haji bersamaku. Aku mengatakan bahwa kamu sudah naik haji sehingga tidak wajib lagi. Kalau aku punya uang aku akan mengajak anak kita naik haji bukan kamu. Kamu berkata, “Aku akan kumpulkan uang daganganku agar bisa naik haji bersamamu.” Kamu pernah bercerita bahwa saking nikmatnya berada di Kota Mekah, kamu pernah berusaha tukar kloter dengan orang lain agar bisa bertahan lebih lama di kota Mekah.
Istriku, aku suka dengan caramu berbakti kepadaku. Ketika ustadz Mulhadi  mengajakku mendirikan SDIT Nurul Fikri Balikpapan kau pun mendukungku. Padahal kau tahu bahwa ini akan kembali mengurangi jatah uang belanja untukmu. Bahkan kau berkata,” Aku akan alihkan infaq-infaq yang selama ini ke lembaga zakat ke Nurul Fikri.” Selama ini kau memang menyisihkan uang transport dari mengisi majelis-majelis ta’lim untuk menunjang dakwahmu.   
Istriku, aku menikmati sentuhan bibirmu ke pundakku sambil memelukku di saat  kita naik motor berdua. Mungkin itu caramu menunjukkan kesetiaanmu. Aku  tersanjung dengan gayamu menunjukkan cemburumu. Aku merindukan caramu menegurku jika engkau melihatku lalai dalam urusan agama kita. Aku merasa bahagia saat kau memujiku. Aku merasa hebat ketika engkau bermanja kepadaku.
Aku salut dengan kecintaanmu terhadap ilmu. Setiap ada ta’lim yang mendatangkan ustadz yang berkualitas  kau berkata, “ Harus duluan nih biar dapat duduk di depan.” Sayang, karena begitu banyaknya anakmu terkadang kau terhambat untuk berada di depan.  Pernah kau begitu sedih karena tidak dapat menghadiri  ta’lim yang diisi DR. Samiun Jazuli. Terlintas di dalam pikiranku, kelak aku akan membiayaimu untuk melanjutkan kuliah S2 agar kau bahagia.
Kau juga begitu bersemangat mengikuti tatsqif (Kajian Tsaqofah Islam) yang diadakan oleh PKS. Ketika ada ujian tatsqif, kau berusaha mengerjakan soal-soal tanpa berusaha menyontek. Tiba-tiba kau mendengar peserta ujian yang lain di sebelahmu saling berbisik tentang jawaban soal yang engkau tidak bisa mengerjakannya. Kamu pun menulis jawaban tersebut. Sepulang ke rumah engkau begitu menyesal dan gelisah. Engkau merasa berbuat curang karena mengerjakan soal dari mendengar percakapan orang lain. “Gimana nih Mas, aku sudah nyontek?” tanyamu. Aku jawab sambil bercanda,” Telpon dosennya, minta dicoret jawabanmu yang dapat dari hasil mendengar itu”. Ternyata engkau benar-benar menelpon ustadz Fahrur agar jawaban atas soal tersebut dicoret saja. Itu yang sering kulihat darimu, begitu takut akan dosa-dosamu. Aku bangga padamu istriku.
Istriku, hal yang sering membuatku bergetar adalah di saat melihat engkau sholat. Begitu khusyuk dan menjaga adab. Tidak pernah aku melihatmu terburu-buru di dalam sholat. Aku menikmati melihat caramu menghadap Tuhanmu. Selelah apapun dirimu kamu selalu berusaha membaca Quran satu juz perhari. Engkau juga tidak ingin meninggalkan dzikir harianmu. Haru rasanya saat-saat melihatmu tertidur dengan Quran masih berada di tanganmu.
Sering aku berangan-angan aku akan membahagiakanmu kelak saat anak-anak sudah besar. Aku akan mengajakmu berjalan-jalan ke kota wisata. Aku akan membelikanmu perhiasan walaupun sekedarnya. Karaktermu yang tidak pernah meminta memang membuatku lalai memperhatikan kebutuhanmu. Bahkan motor pun tidak pernah kubelikan. Motor butut yang kau pakai adalah motor yang memang telah kau bawa dan kau miliki sejak masih gadis. 
Aku yakin bahwa kebersihan hatimulah yang memancarkan aura persahabatan dari wajahmu. Banyak yang mengatakan kepadaku, ”Beliau adalah tempat saya menyampaikan curhat.”  Terkadang kau terlambat pulang dari mengisi pengajian, ketika ku tanya kenapa terlambat, kau menjawab, “ Kasihan ada yang pingin curhat, jadi dengerin dia dulu. Semoga Allah segera kasih dia jalan keluar.” Saya yakin mereka curhat kepadamu karena mereka merasakan kebaikanmu.  
Kamu sering memujiku, “Suami yang pintar”. Ku lihat, kamulah yang lebih pintar mengaplikasikan teori ke dalam praktek dunia nyata. Sebenarnya aku banyak belajar darimu. Kamu pintar sekali memulyakan orang lain. Kamu sering memberikan sesuatu kepada tetangga-tetangga kita. Terkadang aku malu karena yang kau berikan adalah hal-hal yang sederhana. “ Malu ah ngasih ke tetangga segitu. Nggak level buat mereka.” Ternyata sikap perhatianmu kepada tetangga inilah yang membuat mereka mencintaimu.   
Kamu mengatakan kepada pembantu kita, “Kumpulkan tenan-teman yang lain, nanti saya yang membimbing bacaan Qurannya.” Dengan sabar kamu melatih mereka membaca Quran. Kau pun membelikan peralatan memasak sebagai hadiah kepada mereka yang lulus dan melanjutkan bacaan ke jilid berikutnya. Pernah kau melihat salah seorang di antara sedang berlatih mandiri di rumahnya. Kau berkata,” Bahagianya aku Bi melihat mereka mau melatih bacaan secara mandiri.” Sampai terucap dari mulut pembantu kita, “Bu, saya ini mendapat hidayah dari tangan Ibu lho.”
Terkadang aku lupa untuk memberikan uang belanja, ketika kutanya engkau menjawab,”Aku pakai uang daganganku”.Kau kadang membelikanku baju sebagai hadiah ulang tahunku. Aku memang seorang yang berprinsip minimalis, terkadang jika ada barang yang menurutmu harus dibeli, aku mengatakan bahwa itu tidak perlu dibeli, kita da’i tidak usah terlalu mengejar kesempurnaan. Seperti biasa kau pun mengalah dan berkata,” Ya sudah pake uang aku aja.”
Ketika engkau mengalami pendarahan saat melahirkan anak kita yang ke delapan, engkau mengalami step. Sungguh hancur hatiku melihatmu menderita.  Ketika dokter mengatakan butuh tiga kantung darah, aku segera keluar berlari menuju PMI tanpa sempat mengambil alas kaki. Aku sangat takut kehilangmu. Ketika diberitahu bahwa putra kita telah meninggal, aku sudah tidak peduli lagi, “Tolong selamatkan istri saya dok.” Setelah dioperasi kau sempat tersadar, aku tidak tega untuk mengatakan bahwa putra kita telah meninggal. Aku tidak ingin kau tahu bahwa kandungan yang sangat kau cintai dan sering kau elus-elus dengan penuh cinta telah mendahuluimu.  
Dokter mengatakan bahwa kondisi sangat kritis, biasanya kondisi ini berakhir dengan kematian. Dengan kesedihan yang terus mengelayuti aku berkata, ”Umi tidak usah ngomong apa-apa, semua abi yang urus, Umi nyebut Allah saja.” Aku berharap seandainya Allah memanggilmu, maka ucapan terakhirmu adalah Allah. Walau tidak ada suara yang ku dengar, kulihat mulutmu menyebut nama Allah dua kali.” Saat itu aku bernazar, aku pun bertawashul dengan segala amalku agar Allah memberikan kesempatan agar engkau masih bisa bersamaku. Dan ternyata anak-anak kita bercerita bahwa saat itu di rumah mereka juga bernazar agar ibu  mereka selamat.
Dengan sisa harapan yang tersisa di hatiku, aku berusaha membangkitkan semangatmu,”Cepat sembuh,anak-anak kita menunggumu di rumah.” Engkau mengangguk-angguk.Ternyata Allah SWT sangat mencintaimu. Allah SWT ingin memberimu karunia syahid. Kematianmu karena melahirkan putra kita menunjukkan bahwa Allah ingin memberikan yang terbaik untukmu.  Sebagaimana Rasulullah mengatakan bahwa wanita yang mati karena melahirkan termasuk orang-orang yang mati syahid.
Seorang shahabatmu, Ustadzah Mahmudah, menelponku,” Mba Robi itu kalau saya perhatikan sangat khusyuk kalau memimpin doa atau mengaminkan doa. Kalau berdoa, saat kalimat Wa amit ha ala syahadati fi sabilik (matikanlah jiwa kami dalam syahid di jalan-Mu) sering saya lihat mba Robi meneteskan air mata. Ternyata kita memang tidak boleh meremehkan kekuatan doa.”  
Pak Emil tetangga kita berkata, ”Saya tidak pernah berinteraksi dengan almarhumah. Hanya istri saya yang bergaul dengannya. Tapi kepergiannya membuat saya merasa kehilangan sampai dua hari” Mungkin dia shock karena melihat istrinya terguncang.
Ustadzah Sujarwati berkata,” Saya mengisi pengajian dekat SMPN 10, mereka bercerita bahwa almarhumah ustadzah Robiah yang merintis majelis ta’lim ini. Mereka semua kemudian menangis karena teringat istri sampeyan.”  Banyak yang terkejut dengan kepergianmu. Ada yang baru mendengar kematianmu, datang ke rumah untuk kemudian menangis karena kehilanganmu.
Hari kematianmu menjadi saksi atas kesholihanmu. Begitu banyak yang datang untuk memberikan penghormatan kepadamu. Ustadz Muslim mengatakan,” Sahabat-sahabatnya dari pesantren Al Amin, Madura sudah siap-siap mau beli tiket untuk ke Balikpapan, tapi mendengar jenazah akan di bawa ke Samarinda mereka tidak jadi datang.” Beberapa ustadz datang dari Samarinda. Bahkan Ustadz Masykur Sarmian, Ketua DPW PKS pun datang dari Samarinda dan menjadi imam yang mensholatimu. Aku pun melihat ustadz Cahyadi Takariawan, penulis buku dari Yogya, hadir di masjid itu. Mungkin Allah sengaja mengutus orang-orang sholih tersebut untuk menyempurnakan pahalamu. Motor-motor memenuhi jalan masuk ke komplek kita. Seseorang dengan heran mengatakan bahwa kemarin kepala kantor meninggal di komplek ini yang datang nggak sebanyak ini. Ini cuma ibu rumah tangga kok banyak banget yang datang.
Sesudah di sholatkan di masjid Balikpapan, engkaupun dibawa ke Samarinda. Sampai di masjid Ar Raudhah, Aku melihat KH. Mushlihuddin, LC Koordinator Qiroati untuk Kalimantan hadir di sana. Kamu sering berkata bahwa kamu sudah menganggap beliau, gurumu membaca Quran,  seperti ayah sendiri. Kecintaanmu kepada Quran membuat kamu mencintai beliau yang selalu komitmen berjuang menegakkan Al Quran di muka bumi. Sering kamu mengatakan bahwa kamu kangen dengan gurumu, ustadz Mushlih. Segera aku meminta beliau untuk menjadi imam sholat jenazah untukmu.
Kakakmu, Ibu Mursyidah berkata, ”Kepergiannya persis seperti ayahnya, KH. Abdul Wahab Syahrani. Disholatkan dari masjid ke masjid.” Sebelum meninggal beliau berwashiat untuk dikuburkan di Kotabangun. Karena washiat itu beliau disholatkan di tiga masjid di tiga kota oleh murid-murid beliau. Pertama disholatkan di Islamic Centre Samarinda, kemudian disambut oleh Bupati Kutai Kartanegara ( Beliau adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia Kab. Kukar) dan disholatkan di masjid agung Tenggarong, kemudian disholatkan kembali oleh murid-murid beliau di masjid Kotabangun.
Dengan lelehan airmata aku ikut memandikanmu, mengangkatmu, memasukanmu ke liang lahat. Seseorang berkata,” Antum duduk saja biar yang lain saja.” Tidak, Aku tidak mau kehilangan kesempatan ini. Aku sudah kehilangan kesempatan membahagiakanmu di dunia. Aku sudah kehilangan kesempatan membalas dengan baik pelayananmu kepadaku. Biarlah hari ini aku melayanimu walaupun sekedar mengurus jasadmu.
Terimakasih istriku, selama hidupmu kau selalu berusaha tidak merepotkanku. Ketika aku ke bengkel untuk menambal ban, aku mengabarkan kematianmu dan memohon doa untukmu. Tukang tambal ban, mendoakannya dan  berkata,” Istri sampeyan sering ke sini sendiri, menuntun sepeda motor untuk menambal ban, atau kadang ganti ban motor”. Sekuat tenaga ku tahan airmataku. Aku tahu sebenarnya itu adalah tugasku. Kubayangkan adakah wanita lain yang mau  menuntun motor ke bengkel untuk menambal ban karena tidak ingin merepotkan suaminya. 
Mungkin kamu saat ini telah tersenyum bahagia bercanda bersama Abdullah, putra kita. Mungkin kamu sudah bertemu dengan ayah ibumu yang sangat kamu cintai. Walaupun aku betul-betul kehilanganmu, aku tahu bahwa karunia syahid yang Allah SWT berikan kepadamu adalah yang terbaik untukmu.
Istriku, aku menulis ini untuk menumpahkan rindu yang bergejolak di hatiku. Aku juga berharap agar orang yang membacanya mau meringankan lidahnya untuk mendoakanmu. Aku berharap tulisan ini dapat membalas  jasamu kepadaku. Sungguh betapa lambatnya hari-hari berlalu tanpamu.  Ingin rasanya aku segera masuk ke surga agar dapat bertemu kembali denganmu. Selamat jalan Khadijahku.
Balikpapan, hari ke sembilan belas tanpamu di sisiku

Senin, 05 November 2012

Mem-Bidadarikan-Diri @_@

Al Imran Ath Thabrani meriwayatkan sebuah hadist dari Ummu Salamah, bahwa ia Radhiyallahu 'Anha berkata,
"Ya Rasulallah, jelaskanlah padaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli..(Ad Dukhan 51-54)
Beliau menjawab, "Bidadari yang kulitnya bersih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau bak sayap burung Nasar."

Aku (Ummu Salamah) berkata lagi, "Jelaskanlah padaku ya Rasulallah tentang firmanNya : Laksana mutiara yang tersimpan baik (Al Waqi'ah 23) ..!"
Beliau menjawab, "kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tak pernah tersentuh tangan manusia.."


Aku bertanya, "Ya Rasulaallah jelaskan padaku tentang firman Allah : Di dalam surga itu ada bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik (Ar Rahman 70).."
Beliau menjawab, "Akhlaqnya baik dan wajahnya cantik jelita."


Aku bertanya lagi, "Jelaskan padaku firman Allah : Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan baik (Ash Shaffat 49)..!"
Beliau menjawab, "kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada bagian dalam telur dan terlindung dari kulit bagian luarnya, atau yang biasa disebut putih telur."


Aku bertanya lagi, "Ya Rasulaallah jelaskan padaku tentang firman Allah : Penuh cinta lagi sebaya umurnya (Al Waqi'ah 37) ..!"
Beliau menjawab, "mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia dalam usia lanjut dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Allah menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya."

Aku bertanya, "Ya Rasulallah manakah yang lebih utama wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?"
Beliau menjawab, "Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat."


Aku bertanya, "Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?"
Beliau menjawab, "Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya bewarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, "kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki dan kami memilinya."

Maraji' : Agar Bidadari Cemburu Padamu...Salim.A Fillah.

tentang yang bernama Hati

Kau membunuh setiap pucuk perasaan itu. Tumbuh satu langsung kaupangkas. Bersemai satu langsung kauinjak. Menyeruak satu langsung kau cabut tanpa ampun. Kau tak pernah memberikan kesempatan. Karena itu tak mungkin bagimu. Sayangnya, dalam urusan seperti ini, saat semua sudah terlanjur tumbuh, maka tunas-tunas perasaanmu tak bisa kaupangkas lagi. Semakin kau tikam, dia tumbuh dua kali lipatnya. Semakin kauinjak, helai daun barunya semakin banyak.”

-Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, Tere Liye


*Renungan buat kita bersama...Menjaga Hati, sebelum Hati itu terlanjur membuatmu selalu terjaga dari tidurmu.... *Alayyy...yach hehe

Lika liku Semester akhir *Enjoy it ;)

Bismillah...

Sekali lagi tentang lika liku semester akhir.... selalu sj memancarkan berbagai rasa, *yang lagi TA pasti tau..^^ yahhh....kisah kita tentang TA memiliki episode yang berbeda2 dan rasa-rasanya perlu nafas yang panjang untuk melaluinya...

sebenarnya nyeseknya bukan karena pekerjaan2 teknis d dlm TA...tp ketika pertanyaan yg cukup sederhana tiba2 terlontar " Unii.... Kapan ki Sarjana ??? ,Unii....sdh meki ujian Hasil ??? ,Unii si A tawwa selesai mi qta..iyya kapan???... klo yg tanya kawan2 di kampus, bs lebih nyantai dikit lah jawabnya..*maklum punya bnyk stock penangkislah :D tapi klo orang tua yang nanya..Ya Allah..ndak sanggup buat mereka kecewa dgn kata2 yg di rangkai seoptimis mungkin,dengan berbagai pengantar di awalnya...namun intinya "Belum" -___-
Tapi syukurlah ibu sudah bisa menerima ketertundaan Sarjanaku...*Thanks Mom..You are My Everything ^^

Sekarng saya berusaha untuk Fokus di TA...kemarin2 memng sepertinya agak kurang fokus,masih banyak prokrastinasinya...*Muhasah diri Ding :)
namun mengerjakan TA bukan berarti harus hampa amanah...yahh,karena amanah adalah salah satu wasilah kita untuk bisa "Survive" alias Istiqomah fii Sabilillah.
dan selalu saja ku refresh Surah Muhammad Ayat 7...yg intinya Jika kita menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kita dan meneguhkan kedudukan kita..Subhanallah..siapa yg tidak tergoda dengan Ayat ini :)

dan sekarang Gue harus bilang "Fokus nii..." sambil mengepalkan tangan pertanda lg mengumpulkan semangat untuk memulainya lagii... *TA...im coming...:D


oh iyaa....kalau ke fakultas bnyak teman2 jurusan bahkan beda jurusan yg samperin dan bertanya "Saya kira Sarjana meki.." *Jjiaahhh...: ) Ku balas dengan Senyuman terus berucap belum ^^
Yahh...teman-teman banyak yang kurang percaya kalau saya belum Sarjana..soalnya teman2 Jalan d fak sudah melangkah kan kaki duluan ketimbang saya..bahkan sudah ada yang Get out dr kampuz dengan membawa selembar Ijazah S1 :)
cepat lambatnya selesai bukan dilihat dari kecsrdasan akademik semata..*soalnya sewaktu kuliah dulu temn2 banyak mau nyontek sm sy :) tapi sungguh bnyak variabel yang mempengaruhi cepat lambatnya kita sarjana ya...semuanya kembali lagi kediri kita  masing2 "PILIHAN" dan tentu saja ketika memutuskan untuk memilih menunda TA dulu keterlibatan Allah dan Pencapaian Ridhonya mnjdi hal yang pertama dan utama,yang paling penting menunda bukan karena malas ngerjain TA atau mau hapi2 dulu...karena dah bebas kuliah, yahh kita semua punya cara pandang masing2 tentang TA... dan sekarang saya terus menata perasaan Semangat Kerja TA dalm hari-hari berikutnya..menikmati lika liku sebagai mahasiswa tingkt akhir,...karena proses begitu berharga,proses yang akan menentukan seberapa besar nilai dari perjuangan itu,proses pula yang akan terus menempa mnjadi pribadi yang lbh postif lagii..dan tentunya Sekali layar berkembang,pantang untuk surut kembali...Go..Go..Go...Semangattt TA :)



Kamis, 20 September 2012

Mahasiswa Tingkat akhir :)

 http://www.bersamadakwah.com/2012/09/ketika-aktifis-dakwah-bergelar.html


Beberapa bulan terakhir ini Allah memberikan kesempatan pada saya untuk dapat berdiskusi dengan teman-teman ADK (Aktivis Dakwah Kampus) dari berbagai universitas, baik itu mengenai kondisi LDK di kampus mereka masing-masing, strategi perekrutan mahasiswa baru, alur kaderisasi lembaga, program-program syi'ar dan peningkatan kualitas kader pengurus, ataukah hanya sekedar obrolan ringan untuk lebih mengenal karakteristik kader dari berbagai daerah

Maka selain ada ilmu-ilmu baru tentang dakwah kampus yang saya dapatkan dari diskusi tersebut, saya bisa menyimpulkan satu hal bahwa, aktivis dakwah kampus selalu menemukan permasalahan yang sama di tingkat akhir perkuliahan mereka, yaitu, SKRIPSI..hehe

Nah, ulasan yang ingin saya buat kali ini bukan tentang bagaimana manajemen/strategi dakwah dari kampus mereka, karena saya merasa masih belum pantas untuk menuliskannya, selain itu data yang terkumpul masihlah belum memadai, maka saya menjadi khawatir hasilnya tidak begitu maksimal jika dipaksakan saat ini.

Ulasan kali ini ringan saja, hehe.. sambil mengingat masa lalu, saya akan mencoba sedikit berbagi tentang bagaimana dulu saya menyelesaikan permasalahan mahasiswa tingkat akhir itu saat masih kuliah S1dulu.

Yup, kali ini, kita akan berbicara tentang skripsi.. ^.^b
Semoga tulisan ini terlindungi dari hal-hal yang tidak mendatangkan berkah dari-Nya.

Bismillahirrahmanirrohim..

Hal pertama yang harus sama-sama kita pahami adalah, kita semua pasti akan menjumpai skripsi dalam proses perjalanan kuliah kita. Apakah itu mau kita percepat atau malah akan kita undur pengerjaannya. Yang pasti, “saat” itu akan tetap kita jalani, kita HARUS MENYELESAIKANNYA. Karena seperti yang kita tahu, skripsi adalah syarat penting kelulusan S1.

Hal kedua yang juga harus kita sepakati adalah, kita BUKAN MAHASISWA BIASA. Ada berbagai pertimbangan amanah organisasi yang (sering) mempengaruhi pengambilan keputusan kita dalam pengerjaan skripsi tersebut. Pertanyaan “siapa yang akan meneruskan amanah itu ketika saya pergi?” selalu singgah di pikiran kita. Benar?

Hal ketiga yang tak kalah penting adalah, kita smua punya keluarga dan lingkungan yang senantiasa menilai serta mengharapkan yang terbaik dari pribadi kita. Katakanlah, kuliah ini adalah juga sebagai bentuk pelaksanaan TANGGUNG JAWAB kita kepada orang tua yang telah membiayai, serta mendoakan kita agar sukses nantinya. Sepakat?

Jika kita sudah menyepakati ketiga hal tersebut, maka saya akan memulai cerita saya…
………………..

Saya mulai mengerjakan skripsi pada semester 4. Tapi jangan mengira bahwa pada saat itu saya sudah langsung mulai menulis proposal skripsi / konsultasi-konsultasi kepada dosen pembimbing, belum.. Tahukah apa yang saya lakukan di semester 4 itu? Saya membuat PETA KELULUSAN.

Isinya adalah alur-alur dan target yang harus saya lalui untuk menperoleh gelar S.Farm. Jangan juga mengira bahwa peta skripsi itu adalah sesuatu yang sempurna dan valid untuk saya ikuti hingga lulus. Tidak, sungguh peta skripsi awal saya jauh dari sempurna. Banyak sekali mengalami revisi pada semester-semester sesudahnya.

Catatan penting pada poin pertama ini adalah, buatlah RENCANA. Tanpa rencana yang jelas untuk masa depan, sama saja kita sedang merencanakan kegagalan. Hal ini tentu bukan sekedar rencana bahwa bulan sekian saya akan seminar proposal, bulan berikutnya saya sidang pendadaran, dan seterusnya.. bukan, tentu tidak semudah itu rencana yang harus kita buat. Ingat, kita bukan mahasiswa biasa.

Rencana yang kita buat harus jelas dan realistis dengan tahapan-tahapan pencapaiannya. Contoh, ketika kita merencanakan seminar proposal pada semester ke-7, maka kita juga harus menentukan langkah-langkah untuk mencapainya, seperti mencari alternatif judul proposal yang baik sejak semester 6, konsultasi dengan pihak-pihak tertentu sejak semester 5, mencari referensi jurnal-jurnal / studi kasus lapangan, hingga menentukan berapa waktu yang kita perlukan (serta targetkan) untuk menyelesaikan tulisan proposal skripsi kita. Nah, langkah-langkah “kecil” tersebut sangat penting untuk mencapai target seminar proposal di semester 7 itu. Maka, buatlah serinci mungkin apa yang harus kita lakukan untuk mencapai setiap target. Dan, KONSISTEN UNTUK MELAKSANAKAN SETIAP TARGET yang kita buat. Kalau perlu, tulis besar-besar di kertas / papan tulis, dan tempel / letakkan di tempat yang selalu kita lihat setiap hari. Dinding kamar misalnya.

Selanjutnya, saya mulai mewujudkan satu per satu target yang telah saya buat tersebut. Dalam proses pelaksanaannya, tentu banyak terjadi hambatan. Maka, hal penting selanjutnya adalah rutin melakukan EVALUASI TARGET. Fleksibel saja. Jika memang harus ada target yang direvisi, maka segera perbaiki. Penyegeraan evaluasi tersebut membuat kita selalu on fire mencapai tahapan-tahapan target selanjutnya yang belum tercapai. Insya Allah, SABAR DAN IKHLAS saja dalam menjalaninya. Allah menilai setiap usaha kita, yang penting kita sudah benar-benar MELAKUKAN DENGAN MAKSIMAL. Eitss..jangan salah, perencanaan dalam bentuk target itu adalah salah satu poin penting untuk memaksimalkan usaha kita lo..

Poin kedua, yang tentu saja tidak kalah pentingnya, yaitu JANGAN PERNAH MENINGGALKAN AMANAH DAKWAH KARENA SKRIPSI. Banyak aktivis yang terjebak untuk memilih di antara keduanya, jika fokus skripsi maka pasti akan meninggalkan aktivitas dakwah, begitu pula sebaliknya. Tidak, saya tegaskan sekali lagi bahwa tidak seperti itu. Pegang dengan keteguhan hati kita isi kandungan QS. Muhammad : 7, “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong agama Allah niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.

Sikap yang tepat adalah dengan mengaturnya dengan managemen yang baik. Fokus bukan berarti meninggalkan hal lain untuk melakukan satu hal khusus saja. Bukan seperti itu. Jangan lupa bahwa fokus merupakan salah satu bentuk profesionalitas kita sebagai bukan mahasiswa biasa. Contoh nyatanya seperti ini, pada saat syuro maka fokuskan pikiran dan tubuh kita dengan hal yang berhubungan dengan materi syuro. Jangan sampai ada jurnal bahan skripsi di samping buku syuro kita, atau jangan pula asyik browsing bahan penelitian pada saat pemimpin syuro sedang memaparkan agenda syuro. Begitu pun sebaliknya, saat di kelas dosen sedang menjelaskan materi kuliah, kita malah asyik sms-an koordinasi dengan ketum tentang rencana agenda dakwah ahad nanti. Hehe..intinya, jangan mencampur-adukkan amanah yang satu (akademik) dengan amanah yang lain (organisasi dakwah).

Ehm..sebenarnya untuk yang satu itu, saya juga sempat beberapa kali “melanggar”nya sendiri kemarin. Hehe.. Memang saya akui sulit, memusatkan pikiran untuk satu hal (kuliah misalnya) di saat yang bersamaan mungkin kita juga sedang menghadapi satu permasalahan dakwah yang harus segera diselesaikan. Atau, di saat acara dakwah yang sedang tampak “membosankan”, pikiran kita malah ada di tumpukan tugas-tugas kuliah di rumah. Subhanallah, dan saya pun mengakui, saat-saat itu adalah waktu yang paling tepat untuk mengaplikasikan ilmu manageman waktu kita.Maka, tertantanglah kita untuk bisa menerapkan FOKUS PADA TEMPATNYA.

Jika pun suatu saat terjadi benturan yang sulit diatasi, maka langkah yang selanjutnya lagi-lagi bukan meninggalkan amanah dakwah, tapi “mengurangi” intensitasnya. Kita alokasikan diri kita untuk peran-peran dakwah yang masih dapat kita lakukan sambil tetap menyelesaikan amanah akademik. Contoh, jika pada semester 6 jumlah binaan kita ada 4 halaqoh, maka mungkin langkah yang bijaksana untuk menguranginya menjadi 2 halaqoh saja pada semester 7, dengan catatan 2 halaqoh yang lain tentu sudah mampu dikondisikan untuk dilakukan rolling murabbi / penataan kelompok. Contoh lain, jika pada tahun ke-3 perkuliahan kita memiliki amanah di 2 organisasi internal dan 1 organisasi eksternal kampus, maka bijaksana pula untuk memaksimalkan diri hanya di 1 organisasi saja pada tahun ke-4. Tentu lagi-lagi dengan catatan, kita harus sudah memaksimalkan adanya regenerasi sebelumnya, atau antisipasi-antisipasi lain sehingga kepergian kita tidak membuat organisasi tersebut menjadi bermasalah. Inilah pentingnya perencanaan di awal, untuk mengantisipasi hal-hal seperti regenerasi kader misalnya. Kadang kita terlena dengan amanah dakwah kita, tidak sadar bahwa waktu kita sungguh sempit di tempat ini, sementara pekerjaan kita yang lain masih banyak yang harus diselesaikan.

Selanjutnya, poin ketiga, KOMUNIKASIKAN DENGAN BAIK pilihan-pilihan (baik pikiran maupun tindakan) kita kepada pihak-pihak terkait. Contoh, untuk pengerjaan skripsi maka yang tepat adalah mengkomunikasikannya dengan dosen kita. Sampaikan minat dan keinginan yang ingin kita dapat dari skripsi kita tersebut, kapan target kelulusan kita, dan mintalah kesediaan dosen kita untuk membantu mewujudkannya.

Selanjutnya komunikasikan pula dengan pihak keluarga, dalam hal ini orang tua kita. Sampaikan perkembangan akademik kita, untuk orang tua yang pendidikannya juga tinggi dan paham tentang perkuliahan, kita bisa ajak diskusi tentang rencana yang akan kita jalankan untuk mencapai target kelulusan, apa saja kendala dalam penelitian, dan sebagainya. Namun jika orang tua kita kurang paham tentang segala kerumitan kuliah kita (hehe..), maka jelaskanlah hal-hal umum yang mampu mereka mengerti saja. Intinya, mereka tau bahwa kita sedang berusaha yang terbaik untuk kuliah kita. Hal itu akan membuat mereka percaya dan bangga dengan bagaimanapun hasil yang kita dapatkan di akhir perkuliahan nantinya.

Dan..komunikasikan pula dengan qiyadah kita di organisasi terkait hal ini. Jangan sampai kita tiba-tiba “menghilang” tanpa kabar berita dan dinilai non-aktif tanpa alasan yang jelas. Komunikasikan dengan bijak lo, jangan berlebihan pula. Peran qiyadah yang nantinya akan membantu kita mengatur hal-hal yang dapat tetap kita kerjakan bersamaan dengan pengerjaan target akademik kita (skripsi). Maka, qiyadah juga dituntut bijak dalam hal ini. Eitss..satu hal lagi, jangan lupa komunikasikan semuanya dengan murabbi.

Poin keempat, atau yang terakhir..tapi sesungguhnya menjadi yang paling utama, yaitu PERBAIKI HUBUNGAN DENGAN ALLAH SWT. Insya Allah Dia akan membimbing kita memilih yang terbaik, melakukan yang terbaik, serta menjadi yang terbaik untuk semua pihak.. Insya Allah dengan niat yang lurus, ikhtiar yang maksimal, dan doa yang tulus.. kesuksesan itu bukan hal yang mustahil.

Maka apapun pilihan kita, lulus cepat atau lulus PADA WAKTU YANG TEPAT, keduanya mampu kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan-Nya..

...................
Astaghfirullah..astaghfirullah..astaghfirullah..

Saya tentu sangat jauh dari kesempurnaan, mungkin banyak pihak yang terdzalimi atas pilihan yang telah saya ambil dulu, mungkin juga ada amanah yang menjadi tidak maksimal karena saya memilik untuk memaksimalkan amanah yang lain.

Maka, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya, semoga mereka dan Allah SWT mengampuni dan menjadikannya sebagai pelajaran serta hikmah di kemudian hari.

SELAMAT BER-IKHTIAR.. !!! ^.^[]

Jumat, 07 September 2012

letto...nice song

*Menyambut Janji...

Ku menanti sang kekasih
Dalam sunyi ku bersuara lirih
Yang berganti hanya buih
Yang sejati tak akan berdalih
Lembaran putih telah terpilih
Dan demi cinta
Ku tepiskan semua keraguan jiwa
Dan ku ganti dengan kepastian
Hatiku ini yang mulai mengerti
Dan berani tuk menyambut janji
Kisah cinta yang abadi
Takkan ada jika tak kau cari
Sering juga hanya mimpi
Yang membuatku bertahan di sini
Lingkaran putih telah terpilih
Dan demi cinta
Ku tepiskan semua keraguan jiwa
Dan ku ganti dengan kepastian
Hatiku ini yang mulai mengerti
Dan berani tuk menyambut janji
Ku tepiskan semua keraguan jiwa
Dan ku ganti dengan kepastian
Hatiku ini yang mulai mengerti
Dan berani tuk menyambut janji
Ku tepiskan semua keraguan jiwa
Dan ku ganti dengan kepastian
Hatiku ini yang mulai mengerti
Dan berani tuk menyambut janji